Pergilah,
Bersama semburat merah di barat, ku goreskan pena ini, hanya untukmu Sayang. Memang pada kenyataan yang terjadi adalah aku pergi. Setelah kepergianmu bersama embun pagi. Katakan padaku, bagaimana aku bisa bertahan.
Menantimu, sedang tubuh ini perlahan melepuh tersapu mentari. Menunggumu untuk senyumanku. Senyum indahmu yang menenangkan hati ini yang terombang badai. Meredam gemuruh yang sering mendera, menepis keraguan yang menjangkitiku seperti flu di saat pergantian musim.
Ku titipkan doa dan hatiku padamu. Untuk kesehatanmu dan kebahagianmu bersamanya. Untuk semua kenangan manis yang kau tinggalkan untukku, aku akan menyimpannya di kotak hatiku. Kotak yang terkunci rapat, khusus untukmu, untuk kenangan kita.
Masih ingatkah kamu dengan senja itu?
Kamu mungkin telah melupakannya. Mengubur kenangan itu jauh di dalam alam bawah sadarmu. Atau bahkan mungkin kamu telah membakarnya, membuangnya agar tak pernah kembali lagi dalam hidupmu. Senja itu senja pertama yang kita lewatkan bersama. Tidak romantis memang, namun aku selalu mengingatnya. Saat itulah pertama kali aku menyadari aku jatuh cinta padamu.
Aroma rumput basah yang menggelitik hidung, semburat senja yang menerpa wajahmu, alismu, matamu dan senyummu. Pernahkan aku katakan padamu bahwa aku sangat menyukai senyum dan matamu yang bulat itu? Kini aku ucapkan bahwa aku sangat sangat menyukainya. Beruntungnya dia yang telah memilikinya, memilikimu.
Saat ini yang tertinggal hanya aku dan kenangan kita. Ku coba memungut satu per satu kenangan itu. Tercecer dan terberai, ku rangkai semua kenangan itu dengan rasa. Mencecap perih yang mengganggu saat aku pertama memungutinya, namun kini perih itu tak lagi terasa.
Kini aku tersenyum, untukku, untukmu dan untuk senja. Senja yang selalu ada di dalam kotak hati ini.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar