Kamis, 16 Oktober 2014

Sebuah Lagu Untukmu...

Hey, bagaimana kabarmu? Kuharap kamu baik-baik dan sehat selalu :) 

Ini adalah lagu untukmu, dengarkanlah. Semoga kau menyukainya....


Sabtu, 04 Oktober 2014

Kita dan Senja



Pergilah,

Bersama semburat merah di barat, ku goreskan pena ini, hanya untukmu Sayang. Memang pada kenyataan yang terjadi adalah aku pergi. Setelah kepergianmu bersama embun pagi. Katakan padaku, bagaimana aku bisa bertahan.

Menantimu, sedang tubuh ini perlahan melepuh tersapu mentari. Menunggumu untuk senyumanku. Senyum indahmu yang menenangkan hati ini yang terombang badai. Meredam gemuruh yang sering mendera, menepis keraguan yang menjangkitiku seperti flu di saat pergantian musim.

Rabu, 24 September 2014

Give It A Little Time, Please

Lagu lama dari sebuah band Inggris yang nyangkut di telinga dan perasaan. Sebuah lagu yang terasa sangat pas untuk mengungkap apa yang hati ini rasakan.

apalagi hati dan cinta!

So, karena lagu ini sudah mewakili apa yang ingin kukatakan, maka aku akan berhenti nulis (atau ngomong?) yang nggak jelas dan mari nikmati saja lagunya...


    

Dan begini nih, lirik lagu ciamik di atas...

Just have a little patience,
I'm still hurting from a love I lost

I'm feeling your frustration
Any minute all the pain will stop

Just hold me close

Inside your arms tonight
Don't be too hard on my emotions

'Cause I need time

My heart is numb, has no feeling
So while I'm still healing
Just try and have a little patience

I really wanna start over again

I know you wanna be my salvation
The one that I can always depend

I'll try to be strong

Believe me I'm trying to move on
It's complicated but understand me

'Cause I need time

My heart is numb, has no feeling
So while I'm still healing
Just try and have a little patience yeah
Have a little patience yeah

'Cause the scars run so deep

It's been hard but I have to believe
Have a little patience
Have a little patience

'Cause I, I just need time

My heart is numb, has no feeling
So while I'm still healing
Just try and have a little patience
Have a little patience

My heart is numb, has no feeling

So while I'm still healing
Just try and have a little patience



Jadi, maukah kau berikan sedikit waktu untukku dan berusaha lebih keras untuk membuka pintu hati ini?


Selasa, 23 September 2014

Cause I'm still Stuck

Salahkah aku yang jujur tentang perasaanku padamu, sedang aku melihatmu tersenyum bahagia bersamanya?

Rasa yang masih tersisa, kenangan yang tak terhapuskan serta kerinduan yang selalu datang menggoda.

Lalu, BAM!

Ada sosoknya yang berada di sisimu kini. Kau tersenyum dan tertawa. Ya, mungkin dialah sang penghapus luka. Masih pantaskah aku mengusik kehidupanmu? Atau mari kita sama-sama melangkah dan melanjutkan roda kehidupan ini?

Beranjak berjalan, menyepi dan melanjutkan kehidupan. Sendiri-sendiri.

Ah, entahlah. 

Jumat, 19 September 2014

Hey! Happy Birthday My Little Girl

Pagi ini aku terbangun dengan goyangan pelan di pundakku. Kubuka mata dan langsung dikejutkan dengan sodoran sekotak donat mini yang dibawa Zora, keponakanku.

"Mbak, ini dipilih donatnya. Hari ini aku ulang tahun, lho! Tapi mbak Dante jangan milih yang ini ya, ini buat aku," ucapnya sambil menunjuk donat berlapis coklat yang telah diklaim sebagai miliknya.

Ah, iya. Hari ini dia berulangtahun. Perlahan tanganku menjalar ke tepi tempat tidur untuk mencari sebuah kotak kado yang berisi hadiah ulangtahunnya.

Rabu, 03 September 2014

(Mungkin) Tuhan Sedang Ingin Mengajakku Bercanda

(Mungkin) Tuhan sedang ingin mengajakku bercanda.


Melalui orang yang selama beberapa minggu ini bersemayam di pikiranku, Dia mengajari bahwa kebahagiaan dan kekecewaan bisa datang bersamaan.

Sabtu, 30 Agustus 2014

Jalan Raya Di Mata Dante



Entah, kurasa tidak hanya aku seorang yang merasa jalan raya Solo-Jogja telah mulai tidak bersahabat. 

Dalam dua bulan ini saja, tidak kurang empat kejadian kecelakaan telah kusaksikan sendiri. Mulai dari kecelakaan yang melibatkan bis antar kota dan pengendara roda dua, kecelakaan tunggal, hingga truk muatan yang terbalik.

Jujur saja, aku dulu adalah salah seorang pengguna jalan raya yang bisa dikategorikan ugal-ugalan. Ya, aku sering seenaknya sendiri saat melintas dan mengendarai sepeda motorku. Aku bisa seenak udel tanpa rasa bersalah memotong jalur pengguna jalan lain, mengabaikan rambu-rambu lalu lintas dan merasa bangga saat aku bisa mengalahkan truk dan bis-bis antar kota.

Namun itu dulu, sebelum aku sadar betapa rentannya nyawa kita saat berada di jalanan.

Aku pernah ditabrak dari belakang dan membuatku sempat tidak sadarkan diri di tengah jalan selama beberapa detik. Beberapa detik yang membuatku berpikir bagaimana jika saat itu di belakangku adalah mobil atau motor dengan kecepatan tinggi yang takkan cukup cepat untuk mengerem? Bagaimana jika tidak ada masyarakat yang cukup cekatan untuk memapahku dan menepikanku dari tengah jalan raya?

Aku masih cukup beruntung rupanya. Yeah, aku cukup beruntung untuk bisa kembali menghirup udara dan menikmati semilir angin senja. Tak berlebihan kiranya jika kukatakan bahwa beberapa menit tersebut cukup berkesan untuk mengubahku. Membuatku merasa diberi kehidupan kedua oleh Tuhan dan memaksaku untuk melakukan perubahan besar-besaran pada sikapku.

Perlahan aku mulai lebih peduli.

Aku lebih peduli dengan masalah transportasi dan segala tingkah polah manusia di dalamnya, termasuk dengan sarana infrastruktur jalan raya. Dan hari ini mataku tertumbuk pada artikel Solopos.com yang berjudul "Kerusakan Infrastruktur: Jalan 310 Km Rusak, Pemkab Klaten Tak Berdaya".

Well, BULLSHIT!


Apa-apaan ini? Ya pantas saja jika Pemkab tak bisa berdaya, sejak awal mereka memang tidak mau memberdayakan diri. Artikel tersebut menyebut bahwa 40% jalan raya Klaten mengalami kerusakan. Mengenai penyebab kerusakannya sendiri, pihak Pemkab juga sudah mengetahui bahwa kerusakan ini disebabkan oleh kenakalan para sopir truk galian C.

Nah, di sini masalah yang sebenarnya dimulai. Dan seperti biasa, masalah yang berkaitan dengan infrastruktur dan instansi pemerintah selalu dimulai dengan cerita klasik: sama-sama sibuk tuding sana, tuding sini; keluh sana-keluh sini.

Padahal mereka telah sama-sama tahu penyebab utama kenapa jalan kabupaten ini tidak pernah bertahan lama: Truk Galian C. Ribuan truk pengangkut pasir Merapi dan melintasi di jalan Jogja-Solo itulah penyebab utamanya. 

Ketiadaan jembatan timbang di wilayah Klaten mungkin adalah salah satu penyebab utamanya. Truk-truk pasir tak akan mau kompromi. Angkut muatan sebanyak mungkin, sekalipun hal itu menyalahi aturan. Tapi aturan mana yang dilanggar? Toh, pengawasan kuota angkut yang jauh dari ideal.

Padahal kalau dipikir-pikir, memaksa mengangkut muatan melebihi kapasitas itu mau tidak mau hanya akan membuat mereka repot sendiri. Jalanan jadi mudah rusak, perjalanan jadi lebih berat, kecepatan truk menjadi sangat terbatas, serta masa guna truk yang akan bertambah pendek yang pada akhirnya hanya akan membuat biaya operasional mereka semakin membengkak.

Dari sisi Pemerintah Kabupaten sendiri, kurasa mereka juga harus mulai memikirkan cara untuk mengatur truk-truk pasir ini. Tidak bisa tidak, mereka harus mulai berpikir untuk memiliki jembatan timbang guna mengetatkan pengendalian jumlah beban yang diangkut oleh truk sehingga jalan raya akan lebih awet masa penggunaannya.

Beban berlebih, kecepatan seperti keong. Kabar buruk buat jalan raya.

Di sini, jujur, aku mulai membenci para sopir-sopir truk ini. Bagiku mereka adalah sekelompok orang egois yang mencari sesuap nasi dengan mengabaikan kepentingan umum yang ada di sekeliling mereka. Setidaknya seharusnya mereka bisa bertenggang rasa dengan mengangkut beban sesuai kelas jalan, bukan?!

Yah, tak ubahnya dengan para koruptor-koruptor di sana yang mengabaikan kesejahteraan rakyat demi perut buncit mereka.

Jumat, 29 Agustus 2014

Prologue

Resah jiwaku menepi…mengingat semua yang terlewati...
Saat kau masih ada di sisi mendekapku dalam hangatnya cintamu
Lambat sang waktu berganti endapkan laraku di sini
Coba tuk lupakan…bayangan dirimu…yang selalu saja memaksa tuk merindumu…



Lagu naff itu terlantun pelan dari desktop PC yang sengaja ku biarkan. Lagu lama yang membangkitkan kenangan... dan luka.

Letih menahan perih yang kurasakan…walau ku tahu…ku masih mendambamu.

Bayang tentangnya... selalu tentangnya. Mengusik pelan menyergap khayalku. Sorot matanya yang sendu menarikku untuk terus mendekatinya. Mendekatinya hingga tanpa sadar aku terperangkap olehnya, oleh permainan cintanya. Atau bukan hanya diriku, akan tetapi juga dirinya?

Kita berdua, terperangkap dalam permainan takdir yang mendekatkan sekaligus menjauhkan kita. Persis seperti sebuah layang-layang yang dimainkan oleh anak ingusan di tanah lapang. Dua buah layang-layang yang saling bertaut dan kemudian terlepas kembali setelah salah satu benang kita terputus.

Aku tak mengharapkannya terlepas begitu saja dari rengkuhku. Hanya saja benang kita sama-sama terlalu rapuh untuk bertahan di tengah kencangnya tiupan angin. Membawa aku dan dia sama-sama menjauh, dan berpisah.

Berpisah…?

Mungkin itu bukan kata yang tepat, mengingat kita bahkan tak pernah memulainya.

Kita hanya terdiam, sama-sama terdiam. Kikuk menyadari bahwa ada desir halus di antara kita berdua. Sore itu, saat pertama kali bibirmu menyapu lembut bibirku. Kau tersipu, aku terpaku. Tergagap kau meminta maaf padaku, aku tetap terpaku. Berulang kali kau meminta maaf atas hal itu, aku hanya terdiam, aku bingung akan apa yang harus aku katakan padamu.

Tahukah kau bahwa aku diam-diam menyukainya? Menyukai “kecelakaan” akibat terbawa suasana pantai di sore hari itu.

Kusulut rokok keduaku. Asap perlahan mengepul dan membawa aroma mentol segar ke indra penciumanku. Ternyata kau tidak pernah melupakanku, sama dengan apa yang kurasakan. Hanya saja aku tidak tahu apakah rasa itu masih sama. Aku tidak berani berasumsi tentangmu.