Sabtu, 30 Agustus 2014

Jalan Raya Di Mata Dante



Entah, kurasa tidak hanya aku seorang yang merasa jalan raya Solo-Jogja telah mulai tidak bersahabat. 

Dalam dua bulan ini saja, tidak kurang empat kejadian kecelakaan telah kusaksikan sendiri. Mulai dari kecelakaan yang melibatkan bis antar kota dan pengendara roda dua, kecelakaan tunggal, hingga truk muatan yang terbalik.

Jujur saja, aku dulu adalah salah seorang pengguna jalan raya yang bisa dikategorikan ugal-ugalan. Ya, aku sering seenaknya sendiri saat melintas dan mengendarai sepeda motorku. Aku bisa seenak udel tanpa rasa bersalah memotong jalur pengguna jalan lain, mengabaikan rambu-rambu lalu lintas dan merasa bangga saat aku bisa mengalahkan truk dan bis-bis antar kota.

Namun itu dulu, sebelum aku sadar betapa rentannya nyawa kita saat berada di jalanan.

Aku pernah ditabrak dari belakang dan membuatku sempat tidak sadarkan diri di tengah jalan selama beberapa detik. Beberapa detik yang membuatku berpikir bagaimana jika saat itu di belakangku adalah mobil atau motor dengan kecepatan tinggi yang takkan cukup cepat untuk mengerem? Bagaimana jika tidak ada masyarakat yang cukup cekatan untuk memapahku dan menepikanku dari tengah jalan raya?

Aku masih cukup beruntung rupanya. Yeah, aku cukup beruntung untuk bisa kembali menghirup udara dan menikmati semilir angin senja. Tak berlebihan kiranya jika kukatakan bahwa beberapa menit tersebut cukup berkesan untuk mengubahku. Membuatku merasa diberi kehidupan kedua oleh Tuhan dan memaksaku untuk melakukan perubahan besar-besaran pada sikapku.

Perlahan aku mulai lebih peduli.

Aku lebih peduli dengan masalah transportasi dan segala tingkah polah manusia di dalamnya, termasuk dengan sarana infrastruktur jalan raya. Dan hari ini mataku tertumbuk pada artikel Solopos.com yang berjudul "Kerusakan Infrastruktur: Jalan 310 Km Rusak, Pemkab Klaten Tak Berdaya".

Well, BULLSHIT!


Apa-apaan ini? Ya pantas saja jika Pemkab tak bisa berdaya, sejak awal mereka memang tidak mau memberdayakan diri. Artikel tersebut menyebut bahwa 40% jalan raya Klaten mengalami kerusakan. Mengenai penyebab kerusakannya sendiri, pihak Pemkab juga sudah mengetahui bahwa kerusakan ini disebabkan oleh kenakalan para sopir truk galian C.

Nah, di sini masalah yang sebenarnya dimulai. Dan seperti biasa, masalah yang berkaitan dengan infrastruktur dan instansi pemerintah selalu dimulai dengan cerita klasik: sama-sama sibuk tuding sana, tuding sini; keluh sana-keluh sini.

Padahal mereka telah sama-sama tahu penyebab utama kenapa jalan kabupaten ini tidak pernah bertahan lama: Truk Galian C. Ribuan truk pengangkut pasir Merapi dan melintasi di jalan Jogja-Solo itulah penyebab utamanya. 

Ketiadaan jembatan timbang di wilayah Klaten mungkin adalah salah satu penyebab utamanya. Truk-truk pasir tak akan mau kompromi. Angkut muatan sebanyak mungkin, sekalipun hal itu menyalahi aturan. Tapi aturan mana yang dilanggar? Toh, pengawasan kuota angkut yang jauh dari ideal.

Padahal kalau dipikir-pikir, memaksa mengangkut muatan melebihi kapasitas itu mau tidak mau hanya akan membuat mereka repot sendiri. Jalanan jadi mudah rusak, perjalanan jadi lebih berat, kecepatan truk menjadi sangat terbatas, serta masa guna truk yang akan bertambah pendek yang pada akhirnya hanya akan membuat biaya operasional mereka semakin membengkak.

Dari sisi Pemerintah Kabupaten sendiri, kurasa mereka juga harus mulai memikirkan cara untuk mengatur truk-truk pasir ini. Tidak bisa tidak, mereka harus mulai berpikir untuk memiliki jembatan timbang guna mengetatkan pengendalian jumlah beban yang diangkut oleh truk sehingga jalan raya akan lebih awet masa penggunaannya.

Beban berlebih, kecepatan seperti keong. Kabar buruk buat jalan raya.

Di sini, jujur, aku mulai membenci para sopir-sopir truk ini. Bagiku mereka adalah sekelompok orang egois yang mencari sesuap nasi dengan mengabaikan kepentingan umum yang ada di sekeliling mereka. Setidaknya seharusnya mereka bisa bertenggang rasa dengan mengangkut beban sesuai kelas jalan, bukan?!

Yah, tak ubahnya dengan para koruptor-koruptor di sana yang mengabaikan kesejahteraan rakyat demi perut buncit mereka.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar