Saat kau masih ada di sisi mendekapku dalam hangatnya cintamu
Lambat sang waktu berganti endapkan laraku di sini
Coba tuk lupakan…bayangan dirimu…yang selalu saja memaksa tuk merindumu…
Lagu naff itu terlantun pelan dari desktop PC yang sengaja ku biarkan. Lagu lama yang membangkitkan kenangan... dan luka.
Letih menahan perih yang kurasakan…walau ku tahu…ku masih mendambamu.
Bayang tentangnya... selalu tentangnya. Mengusik pelan menyergap khayalku. Sorot matanya yang sendu menarikku untuk terus mendekatinya. Mendekatinya hingga tanpa sadar aku terperangkap olehnya, oleh permainan cintanya. Atau bukan hanya diriku, akan tetapi juga dirinya?
Kita berdua, terperangkap dalam permainan takdir yang mendekatkan sekaligus menjauhkan kita. Persis seperti sebuah layang-layang yang dimainkan oleh anak ingusan di tanah lapang. Dua buah layang-layang yang saling bertaut dan kemudian terlepas kembali setelah salah satu benang kita terputus.
Aku tak mengharapkannya terlepas begitu saja dari rengkuhku. Hanya saja benang kita sama-sama terlalu rapuh untuk bertahan di tengah kencangnya tiupan angin. Membawa aku dan dia sama-sama menjauh, dan berpisah.
Berpisah…?
Mungkin itu bukan kata yang tepat, mengingat kita bahkan tak pernah memulainya.
Kita hanya terdiam, sama-sama terdiam. Kikuk menyadari bahwa ada desir halus di antara kita berdua. Sore itu, saat pertama kali bibirmu menyapu lembut bibirku. Kau tersipu, aku terpaku. Tergagap kau meminta maaf padaku, aku tetap terpaku. Berulang kali kau meminta maaf atas hal itu, aku hanya terdiam, aku bingung akan apa yang harus aku katakan padamu.
Tahukah kau bahwa aku diam-diam menyukainya? Menyukai “kecelakaan” akibat terbawa suasana pantai di sore hari itu.
Kusulut rokok keduaku. Asap perlahan mengepul dan membawa aroma mentol segar ke indra penciumanku. Ternyata kau tidak pernah melupakanku, sama dengan apa yang kurasakan. Hanya saja aku tidak tahu apakah rasa itu masih sama. Aku tidak berani berasumsi tentangmu.

hai dante!
BalasHapus